Berita Fundamental
Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi inti (core consumer prices) di ibu kota Jepang naik 2,8% year-on-year pada November 2025, melampaui target inflasi BOJ di 2%. Kenaikan ini dipicu terutama oleh lonjakan harga pangan, seperti harga beras dan kopi, serta biaya barang konsumsi lain. Karena inflasi inti (yang mengecualikan pangan segar dan energi) juga naik 2.8%, ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya bersifat sementara tetapi sudah meluas ke komponen inflasi dasar.Kondisi ini meningkatkan kemungkinan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga. Banyak analis menilai data ini memberi argumen kuat bahwa siklus pengetatan moneter berlanjut, dan pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan BOJ berikutny yaitu kemungkinan Desember atau awal 2026. Di tengah inflasi yang tetap tinggi dan peringatan dari anggota BOJ bahwa suku bunga riil terlalu rendah bisa memperburuk inflasi, bank sentral sepertinya tidak akan menunda terlalu lama kebijakan normalisasi.
Dari sisi pasar forex, hasil inflasi ini memberi dorongan bagi mata uang yen karena ekspektasi kenaikan suku bunga biasanya menguatkan mata uang domestik. Namun, efek tidak langsung seperti kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang dan permintaan global ikut membayangi, sehingga reaksi terhadap data ini sedikit tertahan. Secara keseluruhan, data inflasi menunjukkan bahwa Jepang mungkin semakin dekat ke fase normalisasi moneter, dan pasar global akan mengawasi ketat langkah BOJ selanjutnya.
Outlook USDJPY

USDJPY masih akan bergerak sideways dengan bias bearish karena pola Lower High. Ini membuka peluang harga bergerak turun menuju support 155.85 menuju MA100 155.33. Indikator RSI juga terlihat mendatar di kisaran 50% sehingga memberikan indikasi sideways. Sementara peluang rebound masih akan terbatas resistance 156.86.
Resistance: 156.86, 157.58
Support: 155.85, 155.33
